
Nintendo kembali menunjukkan kekuatannya di ranah hukum dengan melancarkan penumpasan emulator Switch. Perusahaan raksasa game ini telah mengirimkan pemberitahuan takedown terhadap beberapa repositori Nintendo Switch emulator yang di-host di GitHub. Tindakan ini menandai kelanjutan kampanye Nintendo yang tak henti-hentinya melawan pembajakan dan pelanggaran hak kekayaan intelektual.
Langkah tegas ini, sebagaimana dilaporkan oleh Game Rant, memicu diskusi luas di kalangan penggemar dan pengembang emulator mengenai implikasi jangka panjang dari penumpasan emulator Switch yang semakin intensif ini.
Nintendo Melayangkan Pemberitahuan Takedown DMCA untuk Repositori Emulator Switch
Meskipun secara umum emulator dianggap legal, hal itu tidak menghentikan Nintendo untuk menindak keras mereka dengan alasan pembajakan. Berdasarkan unggahan di subreddit Emulation on Android, repositori GitHub untuk beberapa Nintendo Switch emulator, termasuk Citron, Eden, dan Kenji-X, menerima pemberitahuan takedown yang diajukan berdasarkan US Digital Millennium Copyright Act (DMCA).
Pemberitahuan takedown tersebut menyatakan bahwa setiap repositori GitHub yang tidak mematuhi klaim Nintendo akan dinonaktifkan sepenuhnya. Emulator yang dikenai takedown emulator Switch hanya diberi waktu satu hari untuk memenuhi permintaan Nintendo ini.
Namun, pemberitahuan DMCA terbaru dari Nintendo ini hanya terbatas pada apa yang di-host di GitHub. Ini berarti, emulator Switch yang saat ini di-host di server atau situs repositori terpisah tidak terpengaruh oleh pengajuan hukum terbaru Nintendo. Menanggapi keraguan dan kekhawatiran yang diajukan oleh pengguna, beberapa pengembang emulator mengonfirmasi bahwa pemberitahuan takedown emulator Switch dari Nintendo dan GitHub adalah sah. Pengguna emulator Switch didorong untuk membuat cadangan dari apa yang telah mereka unduh.
Jejak Panjang Nintendo dalam Melindungi Kekayaan Intelektualnya
Ini bukan pertama kalinya Nintendo mengambil tindakan hukum terhadap emulator Switch. Pada tahun 2024, Nintendo menyelesaikan gugatan dengan Tropic Haze, para kreator emulator Yuzu. Nintendo menyatakan bahwa popularitas Yuzu sebagai Nintendo Switch emulator telah memengaruhi penjualan The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom selama peluncuran game tersebut pada tahun 2023.
Nintendo mencapai penyelesaian dengan Tropic Haze sebesar 2,4 juta dolar AS, dan Yuzu menghentikan pengembangannya sebagai bagian dari perjanjian dengan Nintendo. Yuzu juga menyerahkan kendali semua situs webnya kepada Nintendo, meskipun para pengembang emulator tersebut menyatakan bahwa mereka menentang pembajakan sejak awal.
Sebelumnya, pada September 2025, Nintendo juga menyelesaikan gugatan terhadap Modded Hardware. Nintendo mengklaim bahwa produk Modded Hardware, yaitu perangkat MiG Switch yang memungkinkan pengguna untuk mengakali tindakan anti-pembajakan pada konsol Switch, secara langsung melanggar hak IP-nya. Penyelesaian tersebut memberikan 2 juta dolar AS kepada Nintendo, dan perintah tetap terhadap Modded Hardware diberlakukan.
Kontroversi Super Mario Bros. Wonder Edisi Switch 2
Di tengah upaya penumpasan emulator Switch, terdapat pula ketidakpuasan dari beberapa pemilik Switch generasi pertama terkait versi Switch 2 untuk game Super Mario Bros. Wonder. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai strategi produk Nintendo.

Kampanye Anti-Piracy Nintendo yang Berlanjut dan Langkah Tegas
Upaya terbaru Nintendo untuk melindungi IP-nya hanyalah bagian dari kampanye berkelanjutan melawan pembajakan dalam video game dan media massa. Pada Juli 2025, salah satu situs web pembajakan Switch terbesar, NSw2u, disita oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Situs pembajakan tersebut ditutup sebagai bagian dari operasi gabungan antara FBI dan Fiscal Intelligence and Investigation Service (FIOD) dari Belanda.
Mengingat ROM Switch bajakan di-host oleh NSw2u, penutupan ini merupakan salah satu langkah terbesar Nintendo dalam memerangi pembajakan di seluruh dunia. Penutupan tersebut terjadi hanya satu bulan setelah peluncuran konsol Nintendo Switch 2, yang sukses dirilis secara global pada 6 Juni 2025.
Sebagai bagian dari upaya anti-pembajakan, Nintendo merilis pembaruan kebijakan pada tahun 2025 yang menyatakan bahwa perusahaan dapat “membata” (brick) konsol Switch dan Switch 2 yang dimodifikasi dan diyakini digunakan secara tidak sah. Meskipun tindakan ini dipandang sebagai campur tangan yang berlebihan oleh pengguna, hal itu tidak memiliki dampak luas pada penjualan konsol Switch 2.

Mengingat Switch 2 masih menjadi komoditas panas, waktu akan menjawab langkah apa lagi yang akan diambil Nintendo dalam kampanye berkelanjutannya untuk melindungi IP-nya.